Showing posts with label Dunia Kerja. Show all posts
Showing posts with label Dunia Kerja. Show all posts

Tuesday, March 8, 2022

#BreakTheBias

 Hari ini ada acara kantor, tentunya masih diadakan di Ms Teams. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah mendapat 2 kiriman paket goodies yang isinya bagus-bagus semua. 

I love it! I love it!

Tadi pagi, saya mendapat email lagi bahwa kami diperbolehkan memesan makan siang dan bisa diklaim ke kantor, paling banyak Rp 200.000,-

Alhamdulillah, rejeki emang gak kemana.

Maka tibalah hari H dan jam D. Sebagai anak titipan, saya sebenarnya gak terlalu paham apa yang mereka presentasikan. Ini bukan line business saya. Tapi enjoy aja, lumayan untuk menambah pengetahuan. Dan saya cukup senang diundang untuk join ke acara ini. Seandainya ini bukan di masa COVID-19, pastilah kami akan diajak menginap di hotel dan mengundang artis ibukota sebagai salah satu tamunya.

Sampailah acara ke sesi kuis. Temanya adalah English Premier League, dengan 6 pertanyaan. Sebagai penonton setia sepakbola selama bertahun-tahun, saya cukup percaya diri. Ah, tapinya English Premier League bukanlah favorit saya waktu itu. Saya lebih suka Lega Calcio Serie A karena banyak pemain ganteng, hehe. Tapi waktu mampir ke Italia tahun 2013 silam, saya hanya menyempatkan main ke San Siro di Milan. Sementara waktu main ke London, saya bela-belain mampir ke markas Arsenal dan Chelsea.

Balik lagi ke acara tadi. Saya juga tak menyangka bahwa saya bisa menjawab sampai pertanyaan ke-5. Saya bahkan ada di peringkat 1 dan skor saya di atas para bapak-bapak. Si Mas MC mulai berkomentar kurang lebih seperti, "Wah, perempuan juga tahu bola", etc. 

Yaelah, Mas. Udah banyak kali cewek-cewek yang suka bola. Dari jaman SMU aja dulu, beberapa teman saya yang cewek juga menonton bola, walaupun itu setelah saya racuni, hehe.

Dan tibalah di pertanyaan terakhir. Tentang pelatih Leicester City yang berhasil membawa klub menjuarai Liga Inggris tahun 2016. 

Tentu saja jawabnya, Claudio Ranieri! Dan saya malah memencet kotak yang merepresentasikan Jurgen Klopp. Ini artinya, saya juga tersingkir dari podium juara kuis.

Yah, namanya juga bukan rejeki. Ada saja yang bikin gak jadi. 

Namun saya terganggu dengan ucapan si Mas MC, "Wah, untung gak ada perempuan yang jadi juara."

Becanda? Then, it is not funny. 

Di Hari International Women's Day dengan tema #BreakTheBias, masih ada aja bapak-bapak yang gak rela dikalahkan perempuan untuk hal-hal yang konon jadi lahannya laki-laki, seperti halnya sepakbola ini.


Read more

Monday, April 24, 2017

Jobless Saga - 5 :Stress Jobless Tak Mengenal Gender dan Status Pernikahan



Satu hari, saya bertemu dengan beberapa mantan kolega dari tempat bekerja sebelumnya. Senang juga dengan keadaan bahwa kami sama-sama sudah berkarya kembali. Dengan segala kelebihan dan kekurangan apa yang sudah kami dapatkan sekarang ini, saya rasa saya harus mensyukurinya. Paling tidak, sudah ada cantolan dan aliran income masuk. Dan satu yang paling penting, keluarga saya menjadi jauh lebih lega.

Di tengah-tengah pembicaraan, saya meminta mantan kolega tersebut untuk mencarikan info lowongan untuk X, salah seorang kolega yang cukup akrab dengan saya. Saya memintakan info kepada mereka karena skill pool-nya X lebih dekat dengan mereka. Lalu, salah seorang berkata,

“Aaaaah, dia kan ada suami. Yang stress itu, kita ini, laki-laki. Laki-laki itu beda”.

Lalu, yang lain menyambung,

“Enak sebenarnya dia. Duduk-duduk di rumah aja. Ibu-ibu mah gak usah stress. Benar itu, stress laki-laki itu beda. Kami kepala keluarga”

Terus terang, saya lumayan upset mendengar pernyataan mereka ini. Mengapa jadi meremehkan kesulitan orang lain. Apa susahnya berempati. Atau seandainya jika tidak terlalu berniat membantu, paling tidak jangan sampai mengecilkan tantangan hidup yang sedang dilalui orang lain. Jika mendengar perkataan mereka, saya pikir X, teman mereka juga, tak akan merasa lebih baik perasaannya.

Beban dan jalan hidup orang itu berbeda-beda. Apa yang kita anggap ringan bisa saja menjadi berat buat orang lain. Dan sebaliknya, apa yang menjadi berat bagi kita, bisa saja menjadi ringan orang lain.

Dan satu lagi, jika mereka memang laki-laki…mmm, masa laki-laki yang katanya kepala keluarga membandingkan tantangan hidupnya dengan perempuan? Cemen ah!

OK. Bolehlah mereka menyangka ‘penderitaan’ mereka lebih berat karena mereka tulang punggung keluarga. Tapi banyak juga perempuan yang menjadi tulang punggung keluarganya dengan beragam alasan sekarang ini. Dan dia tak harus mengabarkan pada dunia bahwa dialah yang menjadi tumpuan utama finansial keluarga.

Permintaan saya waktu itu hanya satu: Tolong carikan pekerjaan buat X.
Jawabannya: iya atau tidak.

As simple as that.

Saya tidak pernah suka yang namanya stereotipe atau asumsi yang diambil sendiri. Contohnya, pada masa awal-awal di-layoff dulu, beberapa orang menganggap bahwa si Y, yang berstatus lajang, tak akan mengalami kesulitan karena dia tak punya tanggungan.

Hey! Sekali lagi, berempatilah terlebih dahulu.

Hanya karena si Y masih lajang, tak berarti dia tak punya pengeluaran. Orang lajang punya pengeluaran juga, dan tentunya tanggungan juga. Sudahlah tanggungan mereka ini tak bisa didaftarkan sebagai tanggungan resmi dan tentunya tetap saja mengeluarkan sejumlah uang untuk itu, keadaannya disepelekan pula. Lalu, apa karena dia lajang dan (seandainya) pun tak punya tanggungan, dia tak layak diberi empati?

Apakah mereka-mereka yang terbuka dengan cerita drama pilu hidupnya saja yang layak diberikan bantuan?

Apakah orang yang terlihat baik-baik saja memang sebenarnya baik-baik saja?

Kolega saya yang juga lajang punya cerita lain. Sebagai anak tunggal dari orang tuanya, dia lah satu-satunya yang bisa menjaga ortunya. Ortunya sudah lanjut usia. Kolega saya ini harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya, kebutuhan ortunya, dan sekaligus menjaga mereka. Dia hanya tersenyum tipis setiap kali ada orang (sok tau) yang bilang bahwa hidupnya bebas karena tak punya tanggungan dan anak-anak yang perlu dijaga. Dia bukannya tak suka merawat kedua ortunya. Hanya saja, dia tak suka dikomentari oleh orang sok tau.

Ternyata, berempati susah sekali.

Padahal, kita hanya perlu menempatkan diri di posisi orang lain. Memang, kita tak selalu tahu apa yang terjadi pada orang. Kita tak selalu mendapat cerita lengkap atas segala sesuatu. Maka paling tidak, berempatilah.

Jobless is jobless. It is a stressful life changing event. Tekanan yang diakibatkan oleh perubahan status menjadi pengangguran sama dengan tekanan yang dialami ketika kehilangan anggota keluarga, perceraian, dan sakit luar biasa. Siapapun yang tidak menginginkannya pasti akan merasa tertekan, terlepas mereka lajang atau menikah, laki-laki ataupun perempuan, fresh graduate ataupun mendekati masa pensiun. 


Read more

Wednesday, April 19, 2017

Panggilan di Lingkungan Kerja: Bu, Mbak, atau…Bun?

Pagi itu saya sedang dalam proses untuk mendapatkan akses untuk sebuah folder. Setelah korespondensi yang cukup berbelit, akhirnya saya dihubungi oleh seorang teknisi IT. Dia seorang perempuan muda. Sebelumnya, dia sudah sering menghubungi saya untuk memberikan support IT.

Mbak atau Ibu?


Dan kira-kira pembicaraan kami: Santi (S), IT Lady (IT)
S: Bu IT, saya perlu akses ke Folder V, mohon dibantu, saya sudah kirim tiketnya.
IT: Baik, Bu. Tunggu sebentar ya.
S: Iya.

Setelah sekitar 2 menit menunggu,
IT: Matriksnya berapa, Bun?

Mmm, saya pikir dia salah alamat. Tapi karena urusan saya harus segera, saya menanggapi.
S: “Matriksnya berapa, Bun?” --> ini salah alamat?
IT: Iya, Bun. Kalo minta akses folder harus ada matriksnya gitu.

Ternyata benar ditujukan untuk saya. Whattt??? Berasa online shop, deh….

S: Agak aneh ya dipanggil Bun. Berasa online shop. Panggil Mbak aja.
IT: Oh, kalau gitu panggil saya Mbak jugaaaa…

Saya hanya menghela nafas. Ini lingkungan profesional. Di samping itu, saya sama sekali tidak kenal dengan dia. Dan saya dipanggil Bunda. Terlepas dari seseorang punya anak atau tidak, ingin jadi Ibu atau tidak, yang saya tahu, tidak semua wanita nyaman dipanggil Bunda.

Di luar pun, seperti di mall, pasar atau toko, saya juga tidak suka dengan panggilan ban bun ban bun.

Sebelumnya, saya mempunyai beragam macam panggilan di lingkungan kantor. Mulai dari nama sendiri, Ibu, Mba, Uni, Uni Ajo (karena saya sering jadi koordinator pemesanan sate Ajo Ramon, haha). Saya tidak keberatan dengan semua itu.

Tapi dipanggil Bunda baru sekarang ini. Bukannya tidak mau menjadi Bunda, saya hanya tak mau dipanggil Bunda oleh sembarangan orang, dan tentunya bukan oleh teknisi IT ini.


Entahlah, mungkin saya yang terlalu kaku atau lingkungan kerja ini yang terlalu cair…

Dan entahlah, kadangkala seseorang memanggil orang lain dengan harapan ingin menghormati atau mendoakan. Jika yang dipanggil tidak menyukai 'penghormatan' atau tidak nyaman dengan 'doa' tersebut, mengapa masih diteruskan?
Read more

Thursday, March 30, 2017

Jobless Saga - 4: Menghitung Sahabat

Seorang bertanya kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a

Wahai Ali, kulihat sahabat-sahabatmu begitu setia sehingga mereka banyak sekali, berapakah jumlah sahabatmu itu..?"

Sayyidina Ali menjawab, "Nanti akan kuhitung setelah aku tertimpa musibah!" 


***



Saya belum mengecek ke-shahih-an penggalan cerita di atas, tapi saya sangat setuju dengan substansinya. 

Dan pada masa-masa jobless, saya bisa melihat siapa saja yang peduli dan siapa saja yang tiba-tiba menjadi sibuk atau sulit dihubungi jika dimintai tolong. 

Read more

Tuesday, March 28, 2017

Jobless Saga – 3: Interview ‘Lucu-lucu’

Selepas menyandang status pengangguran, saya tak segera mendapatkan pekerjaan. Sementara satu persatu kolega mulai mendapatkan pekerjaan atau kesibukan baru.

Pada awalnya, saya masih bersemangat dan berpikiran positif. Saya juga selalu antusias jika mendengar ada mantan kolega yang sudah mendapatkan pekerjaan baru. Tak hanya senang melihat yang bersangkutan sudah keluar dari kesulitan, itu juga berarti saya punya channel baru di suatu perusahaan sehingga saya bisa menitipkan CV. Setelah tak mendapatkan tawaran yang solid setelah beberapa bulan, saya sebenarnya sempat mempertanyakan kemampuan diri saya sendiri dan apa added value yang bisa saya tawarkan kepada calon employer. Dari semuanya, saat-saat mempertanyakan self-worth inilah yang paling sulit. Alhamdulillah, di saat saya merasa down, selalu ada hal-hal yang kembali menaikkan rasa percaya diri saya. 

Saya sendiri sebenarnya beberapa kali mendapatkan respon dari aplikasi yang saya kirim, kebanyakan dari Jakarta, dan ada pula yang dari Belanda, negara yang saya anggap sebagai rumah ke-2 saya. Kebanyakan dari mereka tidak memberi kabar lagi setelah melakukan interview kecuali yang dari Belanda. Sudah merupakan suatu kebiasaan (atau budaya) di Belanda bahwa setiap interview harus ditindaklanjuti oleh feedback untuk menghindari ambiguitas. Di Indonesia tidak begitu. Jika tidak ada kabar, kemungkinan besar perusahaan yang kita lamar belum berminat.

Tapi tidak seluruhnya juga yang demikian. Sebelum memasuki perusahaan X yang akhirnya me-layoff saya ini, saya juga menjalani proses rekrutmen di perusahaan C yang merupakan perusahaan yang paling saya inginkan. Saya tidak mendengar kabar lagi dari mereka seteah 2 bulan sejak menjalani medical check-up. Pada saat saya sudah deal dengan X, C lalu memanggil. Saya harus menolak walaupun sebenarnya paket mereka sedikit lebih bagus. Alasan lain penolakan saya adalah, saya diberikan jabatan dan tempat bekerja yang tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Sudahlah, namanya bukan rezeki.

Apa saya menyesal sekarang ini? Entahlah. Setiap kali saya menceritakan kepada orang lain tentang hal ini, kebanyakan dari mereka akan menyesalkan keputusan saya. Biarkan, saya yang paling tahu apa yang membuat saya senang, kok. Beruntung saya punya keluarga yang selalu suportif kepada saya sehingga saya selalu merasa nyaman dengan keadaan saya.

Singkat cerita, saya berhasil mendapatkan panggilan untuk interview, tapi ada beberapa yang tidak akan saya lupakan.

Perusahaan A

Ini adalah interview yang difasilitasi oleh seorang agen dari Singapura. Semua prosesnya serba cepat. Si agen berhasil mendapatkan jadwal interview untuk saya, tapi dia tidak menjelaskan detailnya, untuk project apa, dan termasuk nama orang dan fungsi yang meng-interview saya. Dan semuanya dilakukan dengan telepon, bukan email. Saya adalah orang yang nyaman dengan segala sesuatu yang ada hitam di atas putihnya. Jika tahu nama dan fungsi pewawancara, saya bisa kepo-in mereka di Linkedin untuk mendapatkan gambaran tentang latar belakang mereka. Gak hanya mereka yang akan mewawancara saya, saya juga harus mewawancarai mereka. 

Pada jam yang telah disepakati, saya mendapat panggilan telepon untuk interview (kami sepakat untuk phone interview). Ada 3 orang pewawancara saya.
  • Ternyata mereka menanyakan hal teknis yang sangat detail, seperti temperatur dan tekanan pada reaksi pembentukan ammonia. Saya dengan jujur mengatakan bahwa saya mengerjakan itu sudah lama sekali dan saya memang tidak berusaha mengingatnya.
  • Pewawancara lain dengan aksen Jawa yang sangat kental bersikeras menguji kemampuan Bahasa Inggris saya. Jujur, saya agak kesulitan pada saat itu karena saya bahkan tidak bisa menangkap apa yang dia katakan.
  • Lalu si pewawancara dari HR menanyakan apa yang saya lakukan setelah lulus sampai mendapatkan pekerjaan saya yang pertama sekali. Hmm, bukankah hal itu sudah lama. Mungkin akan lebih relevan jika dia menanyakan apa yang saya lakukan semasa menganggur.

Terus terang, saya agak kehilangan semangat melanjutkan proses rekrutmen. Dan gayung bersambut, mereka pun tidak memanggil saya lagi, hehe.

Perusahaan B
Setelah 2 hari mengirimkan aplikasi, saya dipanggil untuk interview oleh HR officer yang bernama A. Saya mengiyakan. Lalu, saya pun disuruh menyiapkan berbagai macam formulir isian dan mengirimkannya sebelum jadwal interview.

Saya pun berhasil mendapatkan tiket Padang-Jakarta. Pada hari H, saya langsung berangkat ke kantor B dari bandara, lengkap dengan gembolan besar karena saya berniat menginap di Jakarta selama 1 malam. Sesampai di kantor B dan melewati pengamanan yang sangat lemah, saya menuju resepsionis. Saya meminta supaya bisa tertemu dengan A.

Setengah jam menunggu, A keluar. Hebatnya, dia lupa siapa saya dan dia bahkan tidak ingat kalau dia menjadwalkan interview buat saya pada hari itu. Saya langsung tahu bahwa saya tak ingin bekerja di perusahaan seperti itu. Karena tak ingin menghakimi mereka, saya pun melanjutkan sesi interview.

Sesi pertama diisi oleh tes psikologi menggambar pohon dan kepribadian dengan buku soal yang sudah sangat lecek. Kertas jawaban saya pun berupa kertas bekas yang dibaliknya sudah ada tulisan. Tapi saya berprasangka baik bahwa mereka sedang melestarikan lingkungan dengan menghemat kertas. Bagus juga, paling gak, saya gak melihat poster-poster kertas tentang penghematan kertas di bagian kantor itu. Di tempat lain, saya pernah menemukan kampanye penghematan kertas yang ternyata malah boros kertas. Iya kalau kertas daur ulang, itu malah pakai kertas baru HVS 80 gram yang biasa dipakai untuk fotokopi.

Sesi kedua adalah wawancara teknikal. Semuanya berjalan lancar walaupun calon user saya mengatakan berkali-kali bahwa dia takut saya tidak betah bekerja di sana. Satu engineer yang lebih muda juga hadir pada waktu itu. Saya cukup respek padanya karena logikanya bagus. Saya harap dia akan mendapat karir yang cemerlang di masa mendatang.

Sesi ketiga seharusnya dengan A lagi, tapi tidak jadi karena A sudah pergi ke mall. Lalu A digantikan oleh F. Pada awalnya, F terlihat simpatik dan lebih berpendidikan. Saya mulai terganggu ketika saya menanyakan apa yang dia suka dari bekerja di Kantor B. Dia mengatakan bahwa jadwal di kantor B sangat fleksibel dan itu cocok untuk dia karena dia perempuan seraya mengangkat alis dan meninggikan suara. Saya menangkap kesan bahwa dia ingin menyindir saya. Kemudian, saya buru-buru berpikiran positif bahwa dia hanya mengungkapkan isi pikirannya.

Kemudian dia sampai di bagian latar belakang pendidikan. Saya menyebutkan bahwa saya lulusan ITB. F dengan tangkas menyebutkan bahwa dia tidak terlalu suka menerima anak ITB dan UI. Menurutnya, lulusan ITB dan UI adalah overrated, alias gak pintar-pintar amat dan pemalas. Dia agak oke dengan lulusan UGM dan ITS. Katanya, dia lebih suka lulusan univeritas yang tidak terlalu terkenal, seperti Unand, USU, dan lain-lain. Uh, enak saja si F ini, Unand dan USU itu adalah salah dua universitas besar yang berada di luar Pulau Jawa. 

Saya hanya tertawa saja mendengar ocehan si F ini. Dia mungkin bermaksud merendahkan ITB dan UI saja, tapi secara dia secara tidak langsung juga merendahkan universitas selain ITB dan UI itu sebagai universitas kelas dua. Lulusan ITB dan UI banyak yang bagus kok, sama seperti lulusan universitas lainnya. Jika kepribadian mereka kurang bagus, mungkin itu faktor lain.

Saya jadi penasaran sendiri dengan almamaternya di F ini. Sayang sekali saya tidak mendapatkan nama lengkapnya sehingga tidak bisa dilacak di Linkedin. Setelah interview, saya pun sempat mencari profil beberapa karyawan yang bekerja di B ini, ternyata kebanyakan mereka memang berasal dari universitas yang tidak terlalu terkenal. Saya sama sekali tidak menganggap rendah mereka yang berasal dari universitas yang tidak terlalu terkenal, saya hanya bingung dengan sikap F yang seolah menyimpan dendam kepada lulusan ITB dan UI. Mau jadi apa perusahaan ini jika HR-nya seperti F ini?

Satu hal lagi tentang interview di B ini: saya bahkan tidak disuguhi minuman apalagi makan siang, mengingat jadwal interview ini melewati jam makan siang. Saya sempat minum air mineral yang saya bawa sendiri di depan F, tapi HR jumawa ini tidak bergeming atau merasa bersalah sedikit pun.

Ah, kalau begitu caranya, selama masih ada F di situ dan kultur mereka masih begitu, saya rasa PT B tak akan maju-maju.

Dan hasilnya? Saya berharap mereka tak memanggil saya lagi karena saya takut juga mengalami dilema jika diberi tawaran yang tak saya inginkan sementara saya butuh pekerjaan. Allah Mengabulkan doa saya, sampai detik ini, mereka tak pernah lagi menghubungi saya.

Perusahaan D
Perusahaan D adalah salah satu target utama saya sebenarnya. Ketika mendapatkan info lowongan, saya mengirimkan aplikasi. Seminggu kemudian pada suatu hari Jumat, Ibu R mengubungi saya lewat telepon untuk menjadwalkan interview pada hari Kamis di pecan selanjutnya.

Saya segera memesan tiket ke Jakarta dan mem-booking penginapan. Hari Sabtu dan Minggu saya isi dengan belajar.

Senin pagi, saya mendapat email pembatalan interview. Iya, hanya email saja. Interview dibatalkan, tapi saya kan sudah memesan tiket dan segala macam?

Saya lalu menelpon Ibu R lagi, dia mengatakan bahwa interview saya dibatalkan bahwa mereka sudah mengubah kualifikasi. Saya meminta penjelasan lebih lanjut, tapi mereka mengatakan bahwa itu adalah keputusan dari user.

Saya lalu menanyakan bagaimana dengan tiket pesawat saya, apakah akan diganti, mengingat saya memesan tiket karena mereka memanggil saya interview. Ibu R dengan datar mengatakan bahwa saya dan perusahaan D tidak membuat kesepakatan tentang penggantian tiket sebelumnya. Saya mengatakan bahwa sudah ada kesepakatan sebelumnya, yaitu pada waktu mereka mengirimkan jadwal interview dan ketika saya meng-accept-nya. Memangnya mau kesepatakan apa lagi? Apa interview juga harus dengan surat bermaterai untuk membuatnya sah di mata hukum?

Saya juga mengatakan kepada Ibu R bahwa saya tidak berkeberatan tiketnya tidak diganti, tapi beri saya kesempatan untuk interview.

Ibu R menjanjikan akan menindaklanjuti semuanya. Dan sampai tulisan ini dibuat, saya belum mendengar kabar apa-apa lagi tentang penggantian tiket saya. Harga tiket itu cukup mahal, yaitu satu bulan biaya makan saya.

Belakangan saya tahu dari teman yang bekerja di perusahaan itu bahwa interview saya dibatalkan karena 2 alasan, yaitu saya lebih dekat ke process safety engineer daripada process engineer, walaupun pengalaman saya sebagai process engineer lebih lama dibandingkan process safety engineer. Alasan lain kedua adalah bahwa mereka lebih mengutamakan kandidat dari Jabodetabek.

Saya bisa mengerti alasan yang pertama, tapi saya benar-benar gagal paham dengan alasan yang kedua. Apakah ada regulasi tentang itu? Saya belum pernah mendengarnya.

Dan jika uang ganti transportasi adalah penyebabnya, mengapa mereka memanggil saya. Dan setelah tiket terbeli, saya pun rela tiket tidak diganti asalkan diberi kesempatan interview, mereka lagi-lagi tidak mau.

Kata orang tua saya, relakan dan ikhlaskan saja demi kedamaian hati saya sendiri. Yang namanya bukan rezeki, ada saja jalannya untuk tidak jadi menuju kesana. Saya menurut karena itulah yang paling membuat saya menjadi lebih plong dan jauh lebih tenang.

Akhirnya, tiket itu saya pakai untuk jalan-jalan saja ke Jakarta.

Jalan-jalan ke Kota Tua

Sekarang, setelah semuanya berlalu, saya sudah bisa menertawakan semuanya. Saya makin percaya bahwa semuanya ada yang mengatur. Tak hanya membuat pikiran saya lebih ringan, tapi saya juga menyadari bahwa ada hal-hal yang berada di luar kontrol saya. Saya tak harus merasa bersalah atau merasa gagal karena itu bukanlah kewenangan saya. Saya wajib berusaha, tapi Allah lah yang menentukan semuanya. Saya juga tahu bahwa Allah sedang Mendidik saya yang tidak sabaran ini untuk menjadi pribadi yang kalem menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan value saya yang saya hargai.

***


Apakah semua interview yang gagal itu berakhir drama? Tidak juga. Ada satu interview yang membuat saya jadi respek kepada recruiter-nya. 
Read more

Sunday, March 26, 2017

Jobless Saga - 2: Berusaha Menerima

Salah satu kenangan di TCC

Setelah mengetahui bahwa saya akan di-layoff, saya berusaha untuk tetap positif dan tetap tenang. Sore itu, saya langsung pergi facial dan dilanjutkan dengan memanjakan diri sendiri. Saya harus siap dengan keadaan ini secara mental, dan tentu saja fisik. Saya berharap supaya selalu diberi kesehatan fisik dan mental untuk semua ini.

Walaupun begitu, sesampainya di kamar, saya menangis sejadi-jadinya. Saya kecewa dengan keadaan. Mengapa harus saya? Saya berusaha profesional dalam bekerja. Saya tak pernah membuang waktu kerja dengan pergi sarapan lama-lama. Kadang-kadang, saya juga keluar lebih lama pada istirahat siang, tapi itu selalu mendapat ijin dari atasan saya sebelumnya. Saya pun selalu memasukkan jumlah reimburse pemakaian uang kantor sesuai angka yang saya bayar. Dan saya sangat hati-hati dalam bekerja.

Dunia rasanya tidak adil!

Dan entah kenapa, setelah berpikir panjang. Malam itu juga saya kembali positif. Saya kemudian yakin semua ada maksud dan hikmahnya. Mungkin ada hal yang lebih baik dipersiapkan untuk saya. Toh, saya juga bukan orang yang bego juga dalam bekerja. Dengan pengalaman dan segala kualifikasi yang saya punya, saya yakin saya akan segera mendapatkan pekerjaan baru. Saya sangat percaya bahwa saya bisa menawarkan banyak hal untuk perusahaan lain. Dan setelah meng-google, ternyata layoff dapat terjadi pada siapa saja. Jangankan layoff, orang-orang terbaik pun dalam bidangnya bahkan bisa dipecat dengan berbagai alasan.

Tak ada hal yang memalukan dari semua itu. Pemutusan hubungan kerja atau layoff ini hanyalah salah satu dari bagian hidup. Mungkin tak terjadi pada semua orang, tapi ini sangatlah normal. Saya sengaja tidak memberi kabar kepada keluarga di kampung halaman karena tidak ingin membuat mereka kuatir.

Jika ditotalkan, jumlah karyawan yang di-layoff mungkin mencapai 70% dari semuanya. Kompensasi yang diberikan juga berbeda-beda sesuai dengan apa yang tertulis di dalam kontrak mereka. Ada yang biasa saja, dan ada pula yang ‘wah’. Tapi yah begitulah, rejeki seseorang memang ada yang mengatur, terlepas orang tersebut profesional atau tidak dalam bekerja.

Hampir semua orang ditawarkan (baca: dipaksa) untuk keluar dari perusahaan. Jika keadaan industri migas baik-baik saja, saya yakin semua orang akan rela mengambil paket perpisahan. Tapi dengan harga minyak yang jatuh bebas, tentu rasanya lebih baik menetap, apalagi kompensasi dan benefit dan diberi perusahaan relatif bagus.

Saya keluar di kloter ke-2. Jadi, pada hari terakhir saya di kantor, masih ada banyak kolega yang mengucapkan selamat jalan dan menyiapkan pesta perpisahan. Mereka akan meninggalkan pekerjaannya beberapa minggu setelah saya.

Menjelang hari terakhir saya di kantor, rasanya saya sudah tak bisa konsentrasi penuh lagi dalam bekerja. Saya hanya sibuk mem-backup data dan tentu saja mengirimkan aplikasi ke berbagai tempat. Semangat dan rasa percaya diri saya masih tinggi pada waktu ini. Beberapa kali saya sempat berpikir bahwa mungkin saja saya tak akan bertemu lagi dengan beberapa orang kolega setelah ini.

Dan saya pun ingin membuat kenangan yang baik di kantor, dengan kolega, terutama dengan mereka yang sudah ‘naik pangkat’ menjadi teman. Ada beberapa drama kecil pula yang sempat terjadi pada masa ini, tapi saya lebih memilih tidak mengungkit hal-hal itu. Ah, entahlah, di saat orang lain sedang kesusahan, masih ada saja orang yang menciptakan drama tak penting. Saya berharap saya tidak akan bertemu kolega seperti itu di masa mendatang. Cukup sudah!

Sampai hari terakhir, belum ada juga kabar dari aplikasi yang sudah saya kirim. Saya sebenarnya mengirim ke banyak perusahaan, termasuk yang berada di luar sektor migas, seperti consumer goods, kontraktor, EPC, bahkan PBB. Tapi saya masih bersemangat dan tetap percaya diri, saya yakin Allah tak akan membiarkan saya dalam keadaan ini berlama-lama.

Pada hari Jumat itu, saya datang ke kantor dengan perasaan bercampur aduk. Pada hari itu, saya bertekad melakukan hal-hal yang tak biasanya saya lakukan, antara lain datang terlambat dan pergi menonton ke bioskop pada saat jam kerja. Saya pun akhirnya memberanikan diri bertanya ke MV, bos disiplin tetangga perihal kenapa dia selalu memakai kemeja putih setiap hari, seolah-olah dia tak punya baju lain. Saya sudah penasaran selama berbulan-bulan, hihi. Sedikit OOT, MV ini adalah versi sangat senior dari TvT. Maka tak heran dia sering menarik perhatian saya, ups, haha. O, iya, menurut MV, orang-orang yang berada pada pucuk kepemimpinan perusahaan punya dresscode sendiri, yaitu kemeja putih, celana gelap, dan berdasi merah. Itu alasan MV memakai kemeja putih dan celana gelap, karena dia ingin mencapai top-level management. OK deh, Pak...! :)

Dan di Jumat itu pada sore harinya, saya melangkah keluar gate untuk terakhir kalinya, diantarkan oleh Pak Satpam dengan memakai lift VIP, yang sehari-harinya hanya dipakai oleh presiden direktur dan wakil-wakilnya. Dari kantor, saya diantarkan oleh teman saya yang bela-belain bawa mobil dari rumah. Thanks, Wan.

Dan pada hari Jumat itu yang ternyata bertepatan dengan hari ulang tahun saya, saya menyandang status pengangguran. Miris? Iya banget, masa kado ulang tahunnya menjadi pengangguran? Huhuhu.

Tapi sudahlah, semakin dipikirkan semakin menambah kesedihan. Lebih baik memikirkan hikmah yang ternyata juga sangat susah ditemukan pada waktu itu :)…

What's next? The drama continued...
Read more

Friday, March 24, 2017

Jobless Saga - 1: Pengumuman

Pura-pura Kerja :P

Siang itu, saya makan siang seperti biasanya. Dengan lauk yang saya bawa sendiri dari rumah. Saya tidak keluar untuk makan siang waktu itu, lebih memilih duduk di pantry dan menonton TV.

Saya baru saja mendapatkan posisi full-time sebagai process safety engineer. Sebelumnya saya adalah process engineer di perusahaan yang sama. Tapi keinginan hati saya adalah di bidang process safety karena saya lebih peduli tentang bagaimana cara melindungi orang, asset perusahaan, lingkungan dan reputasi perusahaan. Itu adalah tugas utama seorang process safety engineer.

Dan saya sangat beruntung, supervisor saya di process engineering sangatlah suportif. Dan calon supervisor saya di process safety engineering juga sangat menyambut niat baik saya. Dan jadilah saya bermigrasi dengan lancar.

Saya merasa tahun 2016 adalah tahun kemenangan saya karena sepertinya alam semesta bekerja sama untuk mewujudkan keinginan saya. Akhirnya saya bisa mengerjakan apa yang benar-benar saya sukai.

Sambil makan, saya mengobrol dengan beberapa admin. Beberapa dari mereka sudah tidak ada lagi di kantor karena sudah di-layoff. Walaupun menurut saya jumlah admin terlalu banyak di kantor dan saya tidak terlalu dekat dengan mereka, saya merasa kehilangan juga. Betapa tidak, kami sudah berinteraksi tiap hari dan saya terbiasa dengan kehadiran mereka. Dan tiba-tiba saja mereka harus pergi.

Isu layoff memang santer di kantor sejak Presiden Jokowi mengumumkan bahwa pemerintah mendukung pengembangan blok gas Masela dengan skema onshore, bukan FLNG seperti yang disiapkan oleh perusahaan tempat saya bekerja.

Setelah makan siang, saya kembali ke kubikel dan meneruskan pekerjaan. Sekitar jam 2 siang, saya menerima email dari HR. Setelah itu, saya menyadari bahwa saya harus mencari pekerjaan baru...

Bagaimana rasanya menjadi pengangguran alias jobless?

Buat yang menginginkan untuk tidak bekerja, tentu akan sangat menggembirakan. Tapi buat saya yang sedang giat-giatnya bekerja untuk hal yang saya senangi, ini tentu lah sangat menyesakkan.


Pemutusan hubungan kerja itu ternyata hanya awal dari rentetan drama yang akan menyusul selanjutnya…
Read more